Gubernur Sumbar Mahyeldi turun langsung meninjau ruas jalan Malalak dan Lembah Anai pada Kamis (26/2/2026), hanya beberapa jam setelah mengikuti Rapat Koordinasi Kesiapan Angkutan Lebaran 2026 bersama Menteri Perhubungan.
Peninjauan dilakukan untuk memastikan kesiapan jalur alternatif di tengah padatnya arus kendaraan di Sitinjau Lauik yang setiap hari sudah mengalami kepadatan, ditambah pekerjaan flyover yang masih berlangsung.
“Kita ketahui, jalur Sitinjau Lauik sudah padat setiap hari, ditambah lagi adanya pekerjaan flyover. Maka jalur alternatif harus kita persiapkan dari sekarang,” tegas Mahyeldi di Malalak, Agam.
Ia menyebut lonjakan pemudik tahun ini diperkirakan meningkat seiring terjadinya bencana di sejumlah daerah di Sumbar pada akhir November tahun lalu, sehingga beban kendaraan diproyeksikan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Beberapa ruas jalan, termasuk kawasan Lembah Anai dan Malalak, masih dalam tahap perbaikan pascabencana sehingga diperlukan pemantauan progres secara berkala untuk menyusun mekanisme pengaturan lalu lintas sebelum puncak arus mudik.
Di jalur Malalak, Mahyeldi melihat langsung perkembangan perbaikan yang disiapkan sebagai opsi pengurai kepadatan Padang–Bukittinggi, meskipun jalur tersebut masih memiliki sejumlah titik rawan longsor dan sementara ini hanya dapat dilalui kendaraan roda dua serta mobil pribadi.
“Kita akan optimalkan jalur yang ada agar masyarakat punya pilihan ketika jalur utama padat. Tapi tetap, dengan mengedepankan prinsip keselamatan,” ujarnya.
Untuk ruas Lembah Anai, Pemprov berharap PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI) selaku pelaksana dapat mempercepat penanganan sehingga pada H-7 Lebaran ruas tersebut sudah dapat difungsikan selama 24 jam.
Menurut Mahyeldi, jalur Lembah Anai menjadi salah satu kunci distribusi arus kendaraan agar tidak seluruhnya bertumpu di jalur Sitinjau Lauik yang selama ini menjadi koridor utama.
Selain kesiapan fisik jalan, Pemprov Sumbar juga menyiapkan penambahan posko pengamanan di sejumlah titik rawan guna mempercepat respons apabila terjadi gangguan lalu lintas maupun potensi bencana.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sumbar, Dedi Diantolani, menjelaskan bahwa skema pengaturan lalu lintas akan diterapkan secara ketat, termasuk rencana sistem satu arah atau one way berbasis waktu.
Direncanakan sistem one way berbasis waktu yang akan diterapkan, pukul 10.00–14.00 WIB untuk arah Padang–Bukittinggi dan pukul 14.00–18.00 WIB untuk arah Bukittinggi–Padang.
"Ini rencana kita untuk mengurai kepadatan pada jam puncak. Keputusan finalnya nanti, setelah kita rapat dan bahas bersama seluruh pihak terkait termasuk pihak kepolisian,” jelasnya.
Ia mengimbau masyarakat mengikuti jadwal serta arahan petugas di lapangan agar mobilitas kendaraan selama masa mudik dan arus balik dapat berjalan lebih aman dan tertib.(*)
Editor : Hendra Efison