Langkah ini diambil agar petani dan pelaku usaha tidak hanya mengandalkan penjualan bahan mentah ke eksportir.
Kepala Dinas Perdagangan dan Transmigrasi Pessel, Afriman Julta mengatakan Pessel merupakan salah satu daerah di Sumbar yang memiliki perkebunan gambir terluas kedua setelah Kabupaten Limapuluh Kota.
Berdasarkan data Dinas Perdagangan dan Transmigrasi Pessel, produksi gambir pada tahun 2021 mencapai 5.875 ton dari luas lahan 9.991 hektar. Sedangkan pada 2022, luas lahan meningkat menjadi 10.324 hektar dengan produksi 7.227 ton per tahun.
Dengan potensi yang cukup besar itu, dia berharap agar petani tidak semata menjual ke eksportir, melainkan mulai mengembangkan produk turunan dari bahan tersebut.
”Kalau IKM pengolahan gambir ini berjalan, tentu akan membantu menyerap hasil panen petani. Tidak semua harus dijual ke eksportir. Tapi juga bisa diolah menjadi produk bernilai tambah,” ujar Afriman Julta.
Ia mengatakan saat ini di Pessel sejumlah produk dari olahan gambir sudah mulai dihasilkan oleh kelompok IKM, seperti tinta batik, kerupuk daun gambir, dan lainnya. Namun, ia berharap ke depan lebih banyak produk inovatif yang muncul dari hasil pelatihan dan pembinaan yang dilakukan.
”Kita terus melatih kelompok IKM agar bisa mengembangkan produk sesuai potensi lokal. Gambir punya banyak manfaat, tinggal bagaimana kreativitas dan inovasi dari pelaku usaha itu sendiri,” ungkapnya.
Afriman Junta menambahkan, keberhasilan pengembangan IKM gambir tidak hanya tergantung pada dukungan pemerintah. Dia menyebut, komitmen dan semangat dari kelompok usaha menjadi faktor utama yang menentukan berhasil atau tidaknya program ini.
”Pemerintah sifatnya memfasilitasi. Tapi kalau kelompok IKM tidak punya semangat atau tidak serius, maka akan sulit berkembang. Jadi, keberhasilan sangat tergantung pada kelompok itu sendiri,” ungkap Afriman.
Ke depan pihaknya berencana terus memperluas pelatihan dan pendampingan, tidak hanya pada pengolahan produk, tetapi juga pada aspek pemasaran digital dan manajemen usaha. Dengan demikian, produk olahan gambir dari Pesisir Selatan bisa menembus pasar yang lebih luas.
”Kita ingin produk IKM gambir tidak hanya dikenal di Sumbar, tapi bisa go nasional, bahkan ekspor. Itu target jangka panjang kita,” ucapnya.
Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Pessel, Mawardi Roska, mengungkapkan, Pemkab telah menyediakan fasilitas dalam mengembangkan produk IKM gambir.
”Saya berharap kelompok IKM bisa memaksimalkan fasilitas dengan baik. Jangan sampai hanya digunakan sekali dua kali. Ini harus benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi produk lokal,” ujarnya.
Mawardi juga menekankan pentingnya penciptaan produk khas yang dapat menjadi identitas Pesisir Selatan. Menurutnya, IKM harus memiliki daya saing agar mampu bertahan di tengah ketatnya persaingan pasar saat ini. ”Produk IKM harus punya ciri khas. Itu penting agar mudah dikenali dan bisa bersaing, baik di pasar lokal maupun luar daerah. Kalau bisa ekspor, lebih bagus lagi,” ungkapnya. (*)
Ket : Foto petani gambir saat melakukan panen beberapa waktu lalu di salah satu lahan perkebunan milik masyarakat di Pessel. (dok yon)
Editor : Eri Mardinal