Usaha kuliner yang berlokasi di Jalan Jeruk Raya, Belimbing, Kecamatan Kuranji, Kota Padang ini telah menjadi penopang hidup keluarga selama 18 tahun.
Setiap hari, sejak subuh, Dzul dan Dahniar menyiapkan lontong, sayur santan, serta lauk pendamping untuk pelanggan yang datang silih berganti.
Dari warung sederhana itulah, keduanya berhasil membesarkan delapan anak hingga meraih kehidupan yang lebih layak.
Namun, sejak beberapa bulan terakhir, usaha mereka dihadapkan pada tantangan berat: kenaikan harga bahan pokok.
Modal harian kini menembus Rp800 ribu, dengan sebagian besar terserap untuk membeli kelapa—bahan utama kuah lontong.
“Sekarang ini bahan pokok serba mahal. Tapi kalau mau jaga rasa, biaya produksinya ikut naik,” kata Dzul saat ditemui, Rabu (5/11/2025).
Khusus kelapa, lanjutnya, menjadi komponen paling krusial. “Kalau kelapa mahal, otomatis biaya kami melonjak. Tapi kalau dikurangi, rasa lontong juga berubah,” ujarnya sambil tersenyum pasrah.
Meski margin keuntungan makin tipis, Dzul dan Dahniar enggan menurunkan kualitas.
Pelanggan yang sudah bertahun-tahun mengenal cita rasa “Lontong Uniang” tetap menjadi alasan utama mereka untuk bertahan.
“Warung ini sudah bagian hidup kami. Selama masih bisa, kami tetap jualan,” tutur Dahniar.(CR2)
Editor : Hendra Efison