Bergelantungan di Akar Pohon Menuju Puncak. Ayah dan Anak dalam Ekspedisi ke Gunung Sago 2.271 Mdpl (Bag 2)
Hendra Efison• Selasa, 29 Juli 2025 | 09:57 WIB
Pendakian Gunung Sago 2.271 Mdpl via Sibaladuang, jalur ekstrem bergelantungan di akar pohon. Tantangan fisik, hutan lestari, dan kisah perjuangan menuju puncak. "Cabe rawit". Itulah label yang dilekatkan pendaki untuk Gunung Sago. Walau ketinggiannya hanya 2.271 Mdpl namun untuk menaklukkannya dibutuhkan perjuangan ekstra. Track pendakiannya bak kombinasi antara pendakian dan panjat tebing.
Laporan: Two Efly & Azib Fattah MP, Limapuluh Kota
Rasa memiliki masyarakat terhadap hutan sekitar Gunung Sago terbilang tinggi. Selepas dari pintu rimba kami mulai menemui banyak pepohonan dengan diameter besar dan tinggi menjulang.
Jenis pepohonannya pun relatif beragam. Mudah-mudahan saja Gunung Sago tidak dijamahi illegal logging. Semoga saja.
Dari pintu rimba 980-an Mdpl kami sudah menemukan kayu kayu berdiameter besar. Jenisnya pun beragam. Mulai dari Kayu Medang Landit (Litsea spp), Meranti, Mersawa (Anisoptera spp), Pulai (Alstonia scholaris), Jelutung. Jenis pepohonan ini juga sangat banyak ditemukan pada kawasan Bukit Barisan.
Selain pepohonan, tumbuhan rambat juga banyak ditemui terutama paku atau pakis. Tumbuhan rambat tinggi serta panjang seperti rotan, tabu-tabu, manau dan sejenis juga masih banyak ditemui sepanjang jalur pendakian.
Tumbuhan bernilai jual tinggi ini mulai ditemukan lebih kurang 45 menit dari pintu rimba atau di ketinggian 1.150 Mdpl sampai ketinggian 1.500-an Mdpl.
"Gunung Sago ini benar-benar kami jaga, pak. Ada aturan kami sebagai warga lokal yang menempati Sibaladuang, Sungai Kamuyang ini. Tidak boleh seorang pun anak negeri menebang pohon besar, apalagi orang lain. Warga hanya boleh menebang pohon sebesar lengan dan itu hanya untuk pemakaian sendiri. Apakah untuk tiang bangunan ataupun sejenisnya. Kalau ada yang menebang pohon besar disanksi adat," ujar M Yunus, bersama Meta Setiawan, Jasril dan Arisman, warga Kubu Jawi yang kami temui di salah satu warung di Kubu Jawi saat kami turun gunung.
Alasan utama warga menjaga hutan ini demi menyelamatkan diri dan lingkungan. Penebangan pohon pohon besar dipastikan akan mengundang bencana banjir bandang (galodo).
"Kok di tabangi kayu gadang gadang tu tantu beko tibo banjir bandang jo galodo. Sia nan ka manangguangan. Tantu kami nan tingga di lereng sago ko. Labiah rancak awak jago rimbo ko dari pado awak nan ka taniayo," ungkap Aris.
Apa yang disampaikan warga setempat benar adanya. Di sepanjang jalur pendakian kami menemukan banyak sekali pohon pohon besar. Bahkan ada pohon yang diameternya melebihi 2,5 meter dan tinggi menjulang.
Tidak itu saja, pangkal pohonnya pun sudah banyak juga yang berlubang dan cukup banyak pula yang sudah tumbang karena terlalu tinggi dan dimakan usia.
Gunung "Cabe Rawit "
Gunung Sago di kalangan pendaki dikenal dengan Gunung "Cabe Rawit". Secara ketinggian Gunung Sago adalah gunung terendah di antara "Seven Summit" Ranah Minang (Sago, Tandikek, Talang, Singgalang, Marapi, Talamau dan Kerinci).
Track atau jalur pendakiannya sangat menantang. Mulai dari topografinya hingga kemiringannya. Tidak itu saja, mulai dari jalurnya yang banyak persimpangan hingga nuansa mistisnya. Seperti Gelanggang Hantu, Lapangan Sibunian dan beberapa kawasan lainnya.
Di kawasan ini cukup banyak juga survivor yang tersasar karena jalurnya banyak persimpangan dan nyaris serupa. Itu pulalah dasarnya setiap pendakian via Sibaladuang disyaratkan membawa guide atau setidaknya akamsi (anak kampung sini).
Dari pintu rimba pendaki hanya dikasih "bonus" jalan landai sedikit. Lebih kurang 15 menit dari pintu rimba tracknya mulai menanjak. Kemiringannya jalur lebih kurang 30 - 40 an derajat. Jalur seperti ini ditemui sampai ke Lapangan Sibunian.
Dari Lapangan Si Bunian ke Sarasah relatif landai. Kita berjalan di punggungan bukit. Kiri dan kanan jalur terlihat jelas jurang yang dalam. Sekali-sekali kita melewati jalinan alami akar pohon besar yang ditutupi lumut, tanah dan dedaunan.
Cukup banyak juga di bawah jalinan alami akar pohon besar itu ditemukan lubang dalam. Kalau tidak pandai memilih pijakan bisa terperosok survivor dibuatnya.
Rute landai di punggungan bukit ini cukup panjang. Rerata survivor profesional butuh 30-45 menit perjalanan. Untuk survivor pemula dan "napas tua" seperti penulis butuh 80 menit perjalanan.
Setelah sampai di Sarasah saya berpikir tantangan sudah teratasi. Ternyata, jalur panjang dari pintu rimba sampai Sarasah hanya jalur pembuka.
"Itu pemanasan baru pak, tantangan terberatnya setelah Sarasah ini. Kita akan menanjak tajam. Kemiringannya berkisar 60-80 derajat di beberapa spot. Kita akan sangat banyak bergelantungan di akar pohon untuk sampai ke pertigaan (pertemuan jalur Sibaladuang dan Kayu Kolek)," ujar Guide kami, Dani Fauzi dan Habil.
Lunglai rasanya badan. Saya coba memacu semangat. Masak harus menyerah. Jauh-jauh dari Padang, sudah mengeluarkan biaya mahal masak tak summit. Malu juga rasanya sebagai mantan pendaki era 90-an menyerah separuh jalan.
"Gimana mby, kita lanjut ya. Masak kita harus menyerah. Lagian dari Sarasah ke atas tak ada lokasi yang bisa dijadikan camp. Kemiringan tajam dan curam," ucap Azib.
Ujian terberat rute Sibaladuang ke puncak Gunung Sago adalah track pasca Sarasah sampai pertigaan. Di sini fisik dan kejelian melihat pijakan dan pegangan urat kayu benar-benar diuji. Salah pegang untuk bergelantung jatuh dan dipastikan menggelinding ke bawah atau ke bibir jurang.
"Etape" ini terbilang ekstrem dan panjang. Bagi penulis yang masuk kelompok pendaki "penat" (Pendaki nafas tua) track ini adalah track sangat terberat. Butuh tiga jam lebih untuk sampai di pertigaan jalur.
Saking beratnya, jalan 15 menit setelah itu kami rehat dengan napas tersengal sampai 5 menit. Dari ketinggian 1.200 an Mdpl menuju 2.000 Mdpl (pertigaan jalur) hampir 10 kali kami istirahat.
Rute ini saya akui sangat berat dan ekstrem. Jalur ini hanya cocok untuk pendaki profesional. Konon kabarnya jalur ini dibuka dan dijadikan untuk tempat latihan fisik dan perang oleh Detasemen Zeni Tempur Padang Mangatas. Bukti dan rambu itu banyak ditemukan sepanjang perjalanan. Seperti name plate "Tradisi Denzipur" serta petunjuk lainnya. (bersambung)