Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Krisis Timur Tengah: Israel Serang Gaza dan Lebanon, AS Bombardir Houthi di Yaman

Heri Sugiarto • Selasa, 1 April 2025 | 13:56 WIB

Kondisi Gaza pasca di boom Israel.(Foto: Mahmoud İssa/Anadolu)
Kondisi Gaza pasca di boom Israel.(Foto: Mahmoud İssa/Anadolu)
PADEK.JAWAPOS.COM-Pasukan Israel kembali melancarkan serangan udara ke ibu kota Lebanon, Beirut, untuk kedua kalinya dalam sepekan.

Serangan di pinggiran selatan kota, Dahiyeh, menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai tujuh lainnya.

Aksi militer ini semakin meningkatkan ketegangan dengan kelompok Hezbollah, yang sebelumnya telah terlibat dalam baku tembak di perbatasan Lebanon-Israel.

Serangan ini dikhawatirkan dapat mengganggu upaya gencatan senjata yang tengah diupayakan.

Presiden Lebanon, Joseph Aoun, mengecam serangan Israel ke Beirut dan menyebutnya sebagai "peringatan berbahaya" atas niat Israel terhadap Lebanon.

Ia menyerukan dukungan internasional untuk menegakkan kedaulatan penuh negaranya.

"Kegigihan Israel dalam agresinya menuntut upaya lebih besar dari kami untuk berbicara dengan sahabat Lebanon di seluruh dunia dan menggalang dukungan atas hak kami untuk memiliki kedaulatan penuh atas tanah kami," ujar Aoun dalam pernyataannya seperti dilansir dari Al Jazeera, Selasa (2/4).

Sementara itu, ribuan warga Palestina di Rafah, Gaza selatan, terpaksa mengungsi setelah pasukan Israel memerintahkan evakuasi hampir seluruh kota.

Serangan udara yang menyusul perintah evakuasi itu menewaskan sejumlah warga sipil, memperburuk situasi kemanusiaan di wilayah yang telah lama terkepung.

Di Khan Younis, jurnalis Palestina Mohammed Saleh al-Bardawil bersama istri dan tiga anaknya tewas dalam serangan udara Israel yang menghantam rumah mereka.

Insiden ini menambah panjang daftar jurnalis yang menjadi korban dalam perang Israel di Gaza.

Di tengah eskalasi kekerasan, warga Gaza menggelar pemakaman bagi 15 petugas darurat yang tewas akibat serangan Israel saat mereka tengah berusaha mengevakuasi warga sipil yang terluka pada 23 Maret lalu.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengutuk pembunuhan terhadap delapan pekerja ambulans dari Palang Merah Palestina yang tewas saat bertugas.

Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Ghebreyesus, menyebut serangan ini sebagai tindakan "tercela" dan menegaskan bahwa petugas kesehatan harus dilindungi di bawah hukum humaniter internasional.

"Kami berduka atas kematian para kolega ini, dan kami mendesak segera diakhirinya serangan terhadap tenaga medis dan kemanusiaan. Segera lanjutkan gencatan senjata," ujar Dr. Tedros dalam pernyataannya di media sosial X.

Kementerian Kesehatan Gaza mencatat bahwa setidaknya 50.357 warga Palestina telah tewas dan 114.400 lainnya mengalami luka-luka sejak perang Israel di Gaza dimulai.

Sementara itu, Kantor Media Pemerintah Gaza memperbarui jumlah korban meninggal sekitar dua bulan lalu menjadi lebih dari 61.700, termasuk mereka yang masih tertimbun di bawah reruntuhan dan diduga telah tewas.

Di sisi lain, militer Israel mengklaim telah berhasil mencegat sebuah proyektil yang ditembakkan dari Gaza utara.

Pasukan udara Israel mencegat proyektil tersebut setelah memicu sirene serangan udara di kota Sderot serta permukiman Ibim dan Or HaNer yang terletak di dekat perbatasan dengan Jalur Gaza.

Belum ada laporan lebih lanjut terkait dampak dari serangan ini.

Serangan Hamas ke wilayah Israel sejak 7 Oktober 2023 lalu menewaskan sedikitnya 1.139 orang dan lebih dari 200 orang lainnya diculik.

Peristiwa ini menjadi pemicu eskalasi konflik yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Di Yaman, Amerika Serikat melanjutkan serangannya dengan meluncurkan 15 serangan udara ke provinsi Saada di utara serta melakukan penggerebekan di sebuah pegunungan dekat Sanaa.

Serangan ini terjadi beberapa jam setelah kelompok Houthi mengklaim telah menembak jatuh drone MQ-9 milik AS.

Komando Pusat AS (CENTCOM) telah merilis dua video di media sosial yang memperlihatkan jet tempur lepas landas dan peluncuran rudal dari kapal induk, dengan pernyataan singkat: "Pasukan CENTCOM terus menyerang posisi Houthi." Serangan udara AS di Yaman telah menewaskan lebih dari 60 orang.

Saluran TV Al Masirah yang berafiliasi dengan Houthi melaporkan bahwa pasukan AS telah melancarkan 15 serangan tambahan di provinsi Saada, termasuk di kota Saada serta distrik Maiz dan Sahar.

Serangan juga terjadi di provinsi Sanaa, dekat ibu kota, dengan target area Jarban di distrik Sanhan. Belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban akibat serangan terbaru ini.

Di dalam negeri Israel, gelombang protes terus berlanjut. Polisi Israel telah menahan setidaknya 12 orang saat ribuan demonstran turun ke jalan di Yerusalem Barat, menuntut agar pemerintah mengembalikan kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas.

Sementara itu, di Amerika Serikat, mahasiswa Universitas Cornell, Momodou Taal, yang berperan penting dalam aksi protes di kampus, memutuskan meninggalkan AS setelah pemerintahan Trump mencabut visanya.

Keputusan ini memicu reaksi dari kelompok aktivis yang menilai tindakan pemerintah sebagai bentuk pembungkaman terhadap kebebasan berekspresi.

Dengan situasi yang semakin memanas di berbagai wilayah, komunitas internasional terus mendesak gencatan senjata segera untuk mencegah bertambahnya korban jiwa dan mempercepat penyaluran bantuan kemanusiaan ke wilayah terdampak perang.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#Krisis Timur Tengah #jurnalis tewas #gaza palestina #perang lebanon #Houthi Yaman #amerika serikat #serangan israel