Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Meriah: Dialektika Trump dan Xi

Tandri Eka Putra • Jumat, 15 Mei 2026 | 11:33 WIB
Meriah: Dialektika Trump dan Xi
Meriah: Dialektika Trump dan Xi

 

Oleh Shofwan Karim

(Pengamat, Penulis Esai dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar)

PADEK.JAWAPOS.COM- Pertemuan dua presiden besar dunia—Donald Trump dan Xi Jinping—pada 14 Mei di Beijing, menjadi tontonan meriahyang disiarkan ke seluruh penjuru dunia. Gema musikkebangsaan, barisan kehormatan militer, hingga sorakan anak-anak sekolah dengan bendera Cina dan Amerika, menghadirkan panggung yang seolah menegaskan kehangatandiplomasi. Namun di balik gemerlap itu, tersimpan masalah-masalah sulit yang tak mudah diselesaikan. Pertemuan inibukan sekadar pesta simbolik, melainkan dialektika kuasayang menyingkap paradoks hubungan dua negara adidaya.

Xi Jinping tampil sebagai pemimpin yang stabil, memegangtiga jabatan sekaligus: Presiden Republik Rakyat Tiongkok, Sekretaris Jenderal Partai Komunis, dan Ketua Komisi MiliterPusat. Ia adalah wajah tunggal dari kekuatan politik, ekonomi, dan militer Tiongkok. Di sisi lain, Donald Trump, Presidenke-47 Amerika Serikat, hadir dengan aura dominasi politiksayap kanan “Make America Great Again” (MAGA). Ia membawa serta 30 CEO perusahaan multinasional, simbolbahwa kepentingan bisnis dan industri menjadi bagian takterpisahkan dari diplomasi Amerika.

Kedua pemimpin saling memuji kebesaran bangsa masing-masing. Trump bahkan menyebut Xi sebagaipemimpinhebat” dan menggambarkan Tiongkok sebagai negeri yang indah. Pernyataan ini kontras dengan retorika kerasnya di masa lalu, ketika ia menuduh Tiongkokmerobek Amerika” dan menyebut Covid-19 sebagai “virus Tiongkok”. Di siniterlihat paradoks politik: seorang presiden yang membangunmerek politik dengan kritik tajam terhadap Tiongkok, kiniharus meneguk manisnya sambutan Beijing demi membukapintu negosiasi.

Baca Juga: Persebaya Tantang Semen Padang FC: 4 Clean Sheet Andhika Jadi Kunci Misi Tiga Poin

Namun, di balik senyum diplomasi, terdapat isu-isu yang sulitditawar. Pertama, soal Iran. Trump berharap Beijing dapatmembantu menengahi krisis di Selat Hormuz yang mengguncang ekonomi global. Hubungan panjang Cina dengan Teheran, ditambah posisinya sebagai mitra dagangterbesar Iran, memberi Xi kartu tawar yang kuat. Jika Beijing mampu mendorong Iran ke meja perundingan, makapengaruhnya terhadap geopolitik energi akan semakin besar. Tetapi, sebagaimana hukum diplomasi, setiap bantuan pastimenuntut imbalan.

Imbalan itu jelas: Taiwan. Bagi Tiongkok, reunifikasi Taiwan adalahharga hidup” yang tak bisa ditawar. Xi menegaskanbahwa penjualan senjata AS ke Taiwan dapat membawakedua negara ke dalam konflik. Di sisi lain, bagi Amerika, Taiwan adalah pilar strategis di Asia Pasifik. Tanpa Taiwan, kekuatan AS di kawasan akan melemah. Maka, barter antaraIran dan Taiwan bukanlah transaksi sederhana, melainkanpertarungan eksistensial yang menyangkut wajah kuasamasing-masing negara. Seperti kata Sun Tzu dalam The Art of War: “Supreme excellence consists in breaking the enemy’s resistance without fighting.” Diplomasi Xi adalah senimenundukkan lawan tanpa peluru, dengan kartu tawar yang lebih halus namun tajam.

Kedua, soal perdagangan. Sejak perang dagang memuncakdengan tarif saling melampaui 100%, dunia menyaksikanbetapa rapuhnya gencatan senjata ekonomi. Kini, Trump membawa delegasi bisnis yang terdiri dari tokoh-tokoh besarseperti Elon Musk, Tim Cook, dan Jensen Huang. Kehadiranmereka menandakan bahwa AS ingin membuka lebih banyakakses ke pasar Cina. Xi, di sisi lain, menunjukkan betapadunia bergantung pada manufaktur dan teknologi Tiongkok: sepertiga barang dunia, 90% mineral tanah jarang, dan 60–80% panel surya serta kendaraan listrik diproduksi di negeri itu. Dengan angka-angka ini, Tiongkok menegaskan posisinyasebagai pusat manufaktur global.

Baca Juga: Kemnaker Buka Jalan Bagi Ribuan Anak Muda di Padang Kuasai Keterampilan AI

Ketiga, soal citra dan legitimasi. Pertemuan ini tak hanyadiplomasi, melainkan tayangpower. Beijing menampilkanXi: pemimpin global yang stabil. Berbeda dengan Trump yang sering dianggap berubah-ubah. Pemimpin dunia lain yang bersemangat menjalin kesepakatan dengan Beijing memperkuat narasi bahwa keseimbangan kekuatan global tengah bergeser. “Kebangkitan Tiongkok tak terhindarkan kiniterjadi di depan mata,” ujar John Delury, pengamat hubunganAS–Cina. Diksi ini mengandung nuansa historis: dunia sedangmenyaksikan transisi dari hegemoni tunggal menujumultipolaritas. Gema Machiavelli dalam The Prince terasarelevan: “It is better to be feared than loved, if you cannot be both.” Xi ingin dihormati, Trump ingin ditakuti; keduanyamemainkan peran ganda antara cinta dan ketakutan di panggung dunia.

Di balik semua itu, terdapat realitas yang lebih kompleks. Cina sendiri tengah bergulat dengan pengangguran, krisis real estat, dan utang pemerintah daerah yang tinggi. Amerika, di sisi lain, menghadapi penurunan popularitas Trump dan tekanan politik domestik. Maka, pertemuan ini bukan sekadartentang siapa yang lebih kuat, melainkan tentang bagaimanadua negara besar mencari cara untuk tetap bergaul di tengahkrisis masing-masing.

Pertemuan Xi dan Trump bagai dialektika Hegelian: tesis dan antitesis yang berjumpa, menghasilkan sintesis, Belum jelasbentuknya. Tesis Tiongkok, stabilitas dan klaim atas Taiwan. Antitesis Amerika, kebebasan. Taiwan dan dominasi pasar global. Sintesis yang mungkin lahir adalah kompromiekonomi, kerja sama energi, atau bahkan kesepakatan strategisjangka panjang. Namun, seperti setiap dialektika, sintesis itutidak pernah final. Ia selalu membuka ruang bagi konflik baru.

Baca Juga: Korban Banjir Tanahdatar Butuh Selimut, Pakaian, dan Perlengkapan Sekolah

Dan, pertemuan ini bagai teater dunia. Ada musik, sorakan, jamuan makan, dan kata-kata manis. Di balik layar, adanaskah yang penuh intrik: senjata, tarif, energi, dan geopolitik. Xi dan Trump adalah aktor utama, penontonnya dunia globalmenunggu apakah drama ini akan berakhir denganperdamaian atau ?. (*)

Editor : Tandri Eka Putra
#beijing #xi jinping #donald trump #tiongkok #as