PADEK.JAWAPOS.COM-DEMOKRASI kita sedang sekarat. Mahar politik telah menjadi kanker yang menggerogoti sistem kita dari dalam. Praktik ini tidak hanya menghancurkan kepercayaan masyarakat terhadap proses politik, tetapi juga menciptakan generasi yang mengalami spiritual stunting. Saatnya kita berhenti menutup mata dan bertindak melawan penyakit ini dengan segala daya.
Bayangkan seorang calon pemimpin yang membeli dukungan dengan uang, bukan dengan visi atau integritas. Ini bukanlah fantasi, ini adalah kenyataan yang kita hadapi. Mahar politik merajalela, memperdagangkan keadilan dan transparansi dengan harga yang murah.
Siapa yang diuntungkan? Para elite yang tamak, yang menggunakan kekayaan mereka untuk mengontrol dan memanipulasi hasil pemilihan. Mereka yang kalah? Kita semua. Rakyat kehilangan hak untuk memilih pemimpin yang benar-benar peduli dan kompeten.
Korupsi yang dihasilkan dari mahar politik merusak seluruh struktur pemerintahan. Pemimpin yang terpilih melalui cara-cara kotor ini merasa harus membayar kembali investasi yang mereka keluarkan. Apa artinya ini bagi kita? Kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat, proyek-proyek yang dikuasai oleh nepotisme, dan keputusan yang lebih menguntungkan para konglomerat daripada masyarakat umum.
Bukankah ini penghinaan terhadap semangat demokrasi? Bukankah ini pengkhianatan terhadap kepercayaan publik? Spiritual stunting adalah dampak lain yang lebih mengerikan dari mahar politik. Ketika politik didominasi oleh uang dan kepentingan pribadi, nilai-nilai moral seperti kejujuran, integritas, dan
keadilan tidak lagi dihargai.
Masyarakat menjadi semakin materialistik, lebih peduli pada keuntungan pribadi daripada kepentingan bersama. Generasi muda kita tumbuh tanpa panutan yang kuat, kehilangan arah dan tujuan hidup yang bermakna. Apakah kita rela melihat anak-anak kita menjadi generasi yang hampa spiritual, yang hanya mengejar kekayaan tanpa peduli pada nilai-nilai luhur?
Lalu, apa yang harus kita lakukan? Diam dan membiarkan ini terus terjadi? Tidak. Kita harus beraksi sekarang. Penegakan hukum yang tegas dan tanpa kompromi adalah langkah pertama. Setiap pelaku mahar politik harus dihukum berat, tanpa pengecualian. Kita tidak boleh memberi ruang sedikitpun bagi koruptor untuk bernapas.
Lembaga-lembaga seperti KPK dan Bawaslu harus diberdayakan penuh untuk mengawasi dan menindak setiap pelanggaran.
Namun, penegakan hukum saja tidak cukup. Kita perlu mendidik masyarakat tentang bahaya mahar politik dan pentingnya integritas dalam proses politik.
Pendidikan moral dan spiritual harus menjadi bagian integral dari kurikulum pendidikan kita. Anak-anak kita harus diajarkan nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab sejak dini. Mereka harus tumbuh dengan pemahaman bahwa kekayaan sejati bukan diukur dari materi, tetapi dari karakter dan integritas.
Partisipasi aktif masyarakat dalam proses politik juga sangat penting. Kita tidak bisa hanya duduk diam dan mengeluh. Kita harus turun tangan, mengawasi pemilu, melaporkan pelanggaran, dan mendukung kandidat yang berintegritas. Setiap suara kita penting. Setiap tindakan kita memiliki dampak.
Jangan biarkan mereka yang tamak dan korup merusak masa depan kita. Kita sedang berada di persimpangan jalan. Kita bisa memilih untuk diam dan membiarkan mahar politik menghancurkan demokrasi kita, atau kita bisa berdiri teguh dan melawan. Pilihan ada di tangan kita. Masa depan bangsa ada di tangan kita.
Mari kita bersama-sama mengakhiri mahar politik dan memastikan bahwa demokrasi kita tidak hanya hidup, tetapi juga berkembang dan bermakna secara spiritual. Mari kita perjuangkan keadilan, transparansi, dan integritas. Sekarang, lebih dari sebelumnya, kita butuh tindakan nyata. Waktunya untuk bertindak adalah sekarang. (Syafruddin Karimi, Departemen Ekonomi Universitas Andalas)
Editor : Novitri Selvia