Proyek strategis ini menjadi bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025 dan diharapkan mampu meningkatkan konektivitas antarprovinsi di Sumatera.
Kepastian tersebut telah diungkapkan Kepala Dinas BMCKTR Sumbar, Era Sukma Munaf saat rapat koordinasi terkait pembangunan tol tersebut yang digelar pada Senin (13/1) di Dinas Bina Marga Cipta Karya dan Tata Ruang (BMCKTR) Sumatera Barat.
Era Sukma Munaf menyebutkan bahwa Pemprov Sumbar sedang mempersiapkan trase alternatif untuk segmen Sicincin-Payakumbuh-Pangkalan.
Alternatif ini diajukan ke Direktorat Jenderal Pekerjaan Umum dan PT Hutama Karya (HK) untuk menghindari jalur padat penduduk serta wilayah rawan seperti jalur gempa Patahan Semangka.
"Trase alternatif kemungkinan besar akan melalui Kabupaten Tanahdatar, menggantikan rencana awal yang melewati Bukittinggi," ujar Era Sukma Munaf.
Langkah ini, bertujuan mempercepat pembangunan sekaligus meminimalisasi dampak sosial.
Proses tender untuk pembangunan tol Sicincin -Pangkalan tersebut, menurutnya, akan dilakukan pada Februari nanti.
Disambut Positif, Usul Subsidi Tarif
Keberlanjutan pembangunan Tol Padang-Pekanbaru menjadi harapan besar bagi masyarakat Sumbar dan Riau serta pengusaha angkutan untuk peningkatan mobilitas, perekonomian, dan sektor pariwisata.
Pengusaha angkutan yang juga pernah menjabat Ketua Organda Sumbar, Sengaja Budi Syukur, menilai proyek ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan sektor pariwisata di Sumbar dan Riau.
“Tol ini akan memperlancar logistik, menurunkan biaya distribusi, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi," ungkapnya kepada Padang Ekspres.
Dijelaskannya bahwa Sumbar memiliki banyak destinasi wisata unggulan, sementara Riau memiliki populasi dan sektor usaha.
Ketika mau liburan, mereka akan berkunjung ke ranah Minang yang jaraknya dekat dan alamnya indah. "Jadi, ini berpotensi meningkatkan kunjungan wisata dari Riau ke Sumbar,” ujar Budi.
Namun, ia mengingatkan bahwa tarif tol harus terjangkau dan ganti rugi lahan, termasuk tanah ulayat, harus diselesaikan secara adil untuk menghindari konflik.
"Itu yang perlu jadi perhatian penting sehingga pembangunan bisa berjalan lancar dan cepat terealisasi," katanya.
Direktur Pemasaran dan Operasional NPM, Vicki Vircansa Chairul, menyatakan pembangunan tol ini menguntungkan operator bus.
“Rute yang lebih cepat akan menekan biaya bahan bakar dan perawatan kendaraan, sekaligus meningkatkan efisiensi operasional,” jelasnya.
Sementara itu, Maulana, seorang sopir bus pariwisata, melihat tol ini sebagai peluang untuk mendongkrak kunjungan wisata, terutama ke destinasi di Payakumbuh dan sekitarnya.
Namun, ia dan operator bus lain berharap pemerintah memberikan subsidi atau tarif khusus untuk angkutan umum agar tetap kompetitif.
Pengguna jalan seperti Hengki Oktobes, warga Padang yang rutin bepergian ke Pekanbaru, juga menyambut baik proyek ini.
“Jika tol ini selesai, perjalanan akan lebih cepat dan bebas macet,” katanya.
Sebelumnya, ruas Padang-Sicincin sepanjang 36,6 kilometer telah beroperasi sejak 21 Desember 2024 dan mencatatkan trafik tinggi dengan 2.813 kendaraan pada hari pertama.
Adjib Al Hakim, EVP Sekretaris Perusahaan PT Hutama Karya, menilai antusiasme masyarakat terhadap tol ini menunjukkan bahwa infrastruktur tersebut menjadi solusi mobilitas antarprovinsi, Sumbar dan Riau.(*)
Editor : Heri Sugiarto