Hari Lahirnya Pancasila diperingati setiap tahun dengan upacara bendera. Baik di instansi pemerintah maupun sekolah. Lazimnya upacara selalu ada penyampaian pidato atau amanat dari inspektur upacara. Baik kepala sekolah hingga kepala daerah dan kepala negara. Isi pidato tentunya tidak dari tema Pancasila. Mengulang-ulang kaji. Mengingatkan kembali jika sudah ada yang lupa dengan Pancasila. Bahwa semaju apapun zaman dan sehebat apapun seseorang tetap harus berpedoman kepada Pancasila. Dan menjadikan Pancasila pandangan hidup bagi bangsa dan warga negara Indonesia. Serta pengamalan sila-sila dari 5 sila dari Pancasila itu sendiri. Pancasila pedoman dalam bersikap, bertindak, dan menyelesaikan berbagai masalah sehari-hari.
Sangat penting menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada anak sekolah. Bukan hanya sekadar hapal bunyi kelima sila saja. Tapi bagaimana penerapannya dalam kehidupan. Mulai sila pertama; Ketuhanan Yang Maha Esa. Yakni menjalankan perintah agama yang dianut. Misalnya agama Islam. Semua tindakan maupun perbuatan harus mengacu kepada ajaran agama Islam. Menjalankan perintah dan larangannya. Jangan suka melalaikan shalat lima waktu misalnya. Yah, era digital sering membuat sebagian orang lalai karena asyik dan tenggelam dengan gadget. Tidak saja remaja tapi juga orang dewasa. Banyak orang sekarang yang melakukan perbuatan menyimpang seperti korupsi, minum-minuman keras, berbuat maksiat, menipu dan perbuatan negatif lainnya karena sudah tak mengindahkan ajaran agama.
Di negara Indonesia terdapat beragam agama yang semestinya semua umat bisa hidup rukun dan damai. Tidak saling cuek apalagi bermusuhan. Tapi mengedepankan toleransi tanpa merusak keyakinan masing-masing. Lazim saja umat suatu agama membantu umat agama lain yang sedang tertimp musibah. Misalnya menyalurkan bantuan bencana alam baik berupa sembako maupun barang yang dibutuhkan korban bencana. Saling bantu dan tenggang rasa akan menciptakan rasa persaudaraan yang kuat sebagai bangsa Indonesia.
Ini sesuai dengan sila kedua: Kemasiaan yang Adil dan Beradab. Mengembangkan sikap tenggang rasa, saling tolong-menolong, dan tidak melakukan diskriminasi. Jangan merendahkan orang karena ia miskin secara harta. Jika kaya dan memiliki banyak harta jangan sombong dan tak mau bergaul dengan kelas bawah. Zaman sekarang istilah yang kaya makin kaya miskin semakin miskin kian santer. Ini sama sekali tidak mencerminkan sila kedua.
Karena mereka yang berada di lingkaran tertentu menguasai sumber daya tertentu hidup kaya raya sampai tujuh turunan. Hartanya menumpuk dan melimpah tanpa mau berbagi dengan masyarakat yang hidup serba kekurangan. Bahkan ada yang hidup dan berladang di punggung orang lain tanpa merasa risih dan bersalah. Ini tentu bertentangan dengan sila ketiga:.Persatuan Indonesia: Mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi/golongan.
Lalu sila keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan: Mengutamakan musyawarah mufakat dalam menyelesaikan masalah dan menghargai pendapat orang lain. Segala urusan akan mudah diselesaikan melalui musyawarah dan mufakat. Jangan memaksakan kehendak sendiri kepada orang lain yang belum tentu baik untuk masyarakat banyak.
Sila kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia: Menghidupkan budaya gotong royong dan bersikap adil terhadap sesama. Ya, budaya gotong royong di tengah masyarakat harus tetap dipupuk agar tidak tergerus perubahan zaman dan kehidupan yang bersifat induvidual. (*)
Editor : Adriyanto Syafril