Dikutip dari Reuters, spot gold turun 9,5% menjadi $4.883,62 per ounce pada pukul 01.57 WIB, setelah sempat menembus rekor tertinggi $5.594,82 pada Kamis (29/1).
Futures emas AS untuk pengiriman Februari ditutup 11,4% lebih rendah di $4.745,10 per ounce. Penurunan tajam ini juga memengaruhi logam mulia lain, termasuk platinum dan palladium.
Analis menyebut aksi jual ini sebagai bentuk profit-taking setelah lonjakan harga yang signifikan.
Faktor Pemicu Penurunan Logam Mulia
Sementara itu, Global Head Commodities Research Standard Chartered Bank, Suki Cooper mengatakan penurunan emas dan logam mulia lainnya dipicu oleh kombinasi faktor, termasuk pengumuman calon Ketua Fed dan arus makroekonomi global.
“Baik faktor dolar maupun ekspektasi real yield telah mendorong aksi ambil untung,” ujarnya.
Trump menunjuk mantan Gubernur Federal Reserve Kevin Warsh sebagai pengganti Jerome Powell mulai Mei mendatang.
Warsh dikenal sebagai kritikus Fed yang sering bersuara terhadap kebijakan moneter, sehingga pasar bereaksi cepat terhadap pengumuman ini.
Rekor Penurunan Silver dan Logam Lainnya
Spot silver jatuh 27,7% menjadi $83,99 per ounce, setelah sempat menyentuh level terendah $77,72. Penurunan ini menjadi hari terburuk bagi silver sepanjang sejarah, berdasarkan data LSEG sejak 1982.
Platinum turun 19,18% menjadi $2.125, sementara palladium melemah 15,7% menjadi $1.682 per ounce.
Meskipun terjadi koreksi tajam, harga emas masih mencatat kenaikan lebih dari 13% sepanjang Januari 2026, menandai bulan kenaikan keenam berturut-turut.
Kepala Strategi Logam MKS PAMP SA, Nicky Shiels memperkirakan harga wajar untuk koreksi emas $4.600, silver $80, dan platinum $2.000 per ounce sebelum tren bullish moderat kembali terbentuk.
Dolar AS Menguat dan Dampaknya pada Logam Mulia
Sementara Indeks dolar AS naik 0,7% dari level terendah empat tahun sebelumnya, membuat emas dan logam mulia berdenominasi dolar lebih mahal bagi pembeli internasional.
Kenaikan dolar ini turut memperkuat tekanan penurunan harga emas, silver, platinum, dan palladium.
“Januari 2026 akan dicatat sebagai bulan paling volatil dalam sejarah logam mulia,” kata Nicky Shiels seraya menekankan bahwa ini fluktuasi ekstrem yang terjadi selama 31 hari terakhir.(*)
Editor : Heri Sugiarto