Tangannya menggenggam tali palang kayu sederhana, sementara matanya awas menatap ke arah utara, menanti suara klakson panjang dari lokomotif yang melintas.
Dialah Hendrizal (51), relawan penjaga pintu rel di perlintasan Jalan Adinegoro dan Jalan Perumahan Singgalang, Batang Kabung Gantiang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang.
Sudah dua puluh tahun ia menjaga keselamatan orang lain di tempat itu.
Setiap kali suara klakson menggema dari kejauhan, Hendrizal dengan sigap menurunkan palang kayu buatannya sendiri.
“Awalnya saya cuma partisipasi sosial saja,” ujarnya pelan.
“Kalau uang yang diharapkan di sini tak akan cukup, paling cuma buat ngopi dan rokok. Untuk biaya rumah tangga tentu tidak.”
Dua dekade lalu, perlintasan tempatnya bertugas belum memiliki palang resmi.
Kecelakaan pernah terjadi di sana, menelan 12 korban jiwa akibat pengendara yang nekat melintas saat kereta datang.
Tragedi itu menjadi titik balik bagi Hendrizal.
“Waktu itu saya berinisiatif sendiri, tanpa harapkan imbalan dari siapa pun,” katanya mengenang.
Setiap pagi selepas subuh, Hendrizal sudah berada di pos kecilnya—sebuah bilik dari kayu bekas yang kini menjadi saksi ketekunannya.
Baca Juga: 5 Film Horor Siap Hantui Layar Lebar Sepanjang November 2025, Mana Pilihanmu?
Ia berjaga hingga kereta terakhir melintas menjelang malam.
Dulu, warga Perumahan Singgalang dan Jihad Permata Biru sempat memberinya gaji selama dua tahun, namun setelah itu ia bertahan dengan inisiatif sederhana: menaruh kardus kecil di pinggir pos bagi siapa saja yang ingin memberi seikhlasnya.
Tantangan tetap ada. Hendrizal mengaku, pengemudi mobil online kerap menjadi yang paling sulit diatur.
“Kadang palang sudah saya turunkan, tapi tetap saja ada yang nyelonong masuk,” ujarnya, menggeleng pelan.
Perjuangan Hendrizal akhirnya mendapat perhatian. Pada 31 Oktober 2025, Wali Kota Padang Fadly Amran memberikan pembekalan kepada 64 penjaga perlintasan di 21 titik se-Kota Padang.
Mereka kini dibekali rompi, topi, tongkat lalu lintas, dan bendera—bentuk apresiasi atas dedikasi yang selama ini jarang tersorot.
Bagi Hendrizal, menjaga rel bukan sekadar rutinitas, melainkan panggilan hati. Di tengah hiruk-pikuk kendaraan yang berlalu-lalang, ia berdiri sebagai simbol kepedulian, memastikan tak ada lagi nyawa yang hilang di atas besi panjang itu.
“Selama masih mampu, saya tetap di sini,” ucapnya, menatap rel yang perlahan bergetar menandai kereta berikutnya akan datang. (Fadli Zikri/cr6)
Editor : Hendra Efison