PADEK.JAWAPOS.COM-Donald Trump dan Amerika Serikat boleh menyemburkan ribuan alasan tentang penyerbuan Venezuela dan penculikan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores.
Namun, motif sesungguhnya adalah penguasaan minyak. Mike Waltz, duta besar AS di PBB secara tersurat menyatakan, tak boleh ada rezim yang mengontrol kandungan minyak sebesar Venezuela dan bermusuhan dengan AS.
Trump kemudian mengakui secara gamblang, negeri Amerika Selatan itu akan menyerahkan minyak mentah senilai USD 2 miliar kepada negara yang dia pimpin.
“Minyak ini akan dijual dengan harga pasar dan uang itu akan dikendalikan oleh saya sebagai Presiden Amerika Serikat untuk memastikan uang itu digunakan untuk kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat!” kata Trump, seperti diunggah di akun Truth Social miliknya dan dikutip dari USA Today.
Presiden AS dua periode itu tak merinci bagaimana skema yang akan dipakai untuk memastikan bahwa hasil penjualan uang itu “digunakan untuk kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat.”
Dia hanya menambahkan, perusahaan-perusahaan AS akan menginvestasikan miliaran dolar dalam produksi minyak Venezuela.
Negeri yang beribu kota di Caracas itu diketahui memiliki cadangan minyak sebesar 330 miliar barel, terbesar di dunia. Jutaan barel di antaranya dimuat di kapal tanker dan tangki penyimpanan yang belum dapat dikirim karena blokade yang diterapkan Trump.
Trump melanjutkan, dia ingin Penjabat Presiden Delcy Rodríguez memberikan AS dan perusahaan swasta akses penuh ke industri minyak Venezuela.
Menteri Energi Amerika Chris Wright yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kesepakatan tersebut menambahkan, minyak akan diambil dari kapal dan dikirim langsung ke pelabuhan Amerika.
Namun, saat berkeliling di Komune Sosialis Joao Felix Ribas, Caracas (6/1), Rodríguez menegaskan, pemerintahan yang dia pimpin akan tetap meneruskan gaya pemerintahan Bolivarian seperti di masa Maduro.
Dia juga menyatakan, pemerintahannya akan berkomitmen kepada perdamaian, kedaulatan nasional, dan pembebasan Maduro. “Hentikan pelecehan terhadap Venezuela, hentikan agresi terhadap masyarakat Bolivar,” katanya, seperti dikutip dari teleSur.
Bolivarian merujuk pada ideologi politik yang terinspirasi oleh Simón Bolívar, pahlawan pembebasan Amerika Selatan dari penjajahan Spanyol, yang menggabungkan nasionalisme, sosialisme, dan anti-imperialisme, terutama dalam konteks “Revolusi Bolivarian” yang dipimpin oleh Hugo Chávez di Venezuela.
Alasan di Luar Keamanan
Begitu pula dengan motif di balik keinginan Trump menguasai Greenland. Alasan resminya, wilayah otonom di bawah Denmark itu penting dari perspektif keamanan AS.
Pada Perang Dunia II, AS memang pernah menduduki Greenland untuk mencegahnya jatuh ke tangan Nazi. Dengan dua pertiga wilayahnya berada di Lingkar Arktik, menguasai Greenland juga berarti mengontrol jalur pelayaran Atlantik Utara.
“Kita sangat membutuhkan Greenland. Kita membutuhkannya untuk pertahanan,” kata Trump dalam wawancara dengan The Atlantic (5/1).
Yang tidak diungkap oleh Trump, selain nilai strategis militer, Greenland juga menyimpan cadangan mineral tanah jarang yang sangat dibutuhkan untuk industri teknologi tinggi, seperti ponsel, komputer, baterai, dan kendaraan listrik.
AS dan negara-negara Barat melihat potensi ini sebagai peluang untuk mengurangi ketergantungan pada Tiongkok. Negeri Panda itu saat ini mendominasi pasar mineral strategis tersebut.
Dari sisi militer, AS saat ini mengoperasikan Pangkalan Antariksa Pituffik di Greenland Barat Laut.
Pangkalan itu dibangun berdasarkan Perjanjian Pertahanan Greenland antara AS dan Denmark pada 1951 dan berfungsi mendukung sistem peringatan dini rudal, pertahanan misil, serta pengawasan ruang angkasa bagi AS dan NATO.
Tolak Interferensi Asing
Sementara itu, Tiongkok menuntut pembebasan Maduro. Beijing juga menyatakan, siap bekerja sama dengan komunitas internasional untuk menjaga stabilitas dan menolak interferensi asing di Amerika Latin.
“Tiongkok menuntut pembebasan Presiden Maduro dan istrinya secara bersamaan serta memastikan keselamatan mereka,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Mao Ning dalam jumpa pers di Beijing (6/1).
Baca Juga: BMKG: Hujan Petir dan Gelombang 2,5 Meter Ancam Perairan Sumbar 8–11 Januari 2026
Ketika ditanya tentang agenda imperialisme AS dan bagaimana rencana Beijing mencegah AS menjadi “polisi dunia”, Mao menegaskan, Tiongkok sangat mengutamakan visi yang menghormati kedaulatan dan integritas semua negara.
“Kami sangat memperhatikan secara serius legitimasi keamanan negara lain dan mendukung penyelesaian perbedaan serta permasalahan secara damai,” katanya, seperti dikutip dari teleSur. (lyn/ttg/jpg)
Editor : Novitri Selvia