PADEK.JAWAPOS.COM-Pengolahan sampah plastik bungkus kopi umumnya dilakukan secara kreatif menjadi kerajinan tangan bernilai ekonomis.
Seperti tas, tikar, dompet, hingga tempat tisu, melalui langkah seperti membersihkan, memotong, melipat, lalu menganyam atau menjahitnya menjadi produk unik yang mendukung program 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan mengurangi limbah plastik.
Masalah sampah plastik, khususnya plastik berlapis alumunium (multilayer plastic) seperti bungkus kopi instan, menjadi tantangan besar di lingkungan sekolah.
Sampah jenis ini sulit terurai dan sering kali berakhir di TPA tanpa pengelolaan yang berarti. Namun, sebuah inovasi menarik hadir di SD Negeri 65 Payakumbuh melalui program Guru Tamu Kreatif.
Setelah berdiskusi dengan majelis guru kami membuat program untuk mendatang kan guru tamu dalam pengolahan sampah. Guru tamu yang kami datangkan adalah yang memang sudah bergelut seharian dalam pengolahan sampah.
Beliau juga merupakan narasumber di Kota Payakumbuh tentang Pengolahan Sampah. Namanya adalah ibu Lisa Marlina juga merupakan wali murid kami dari siswa kelas V.
Alih-alih hanya mempelajari teori lingkungan di buku teks, para siswa diajak langsung menyentuh masalah dan menciptakan solusi nyata.
Mengapa Harus Bungkus Kopi?
Bungkus kopi memiliki karakteristik yang unik: kuat, tahan air, dan memiliki corak warna-warni yang menarik. Jika dibuang begitu saja, mereka menjadi polutan.
Namun, di tangan yang tepat, sampah ini bisa berubah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi seperti tas, taplak meja, hingga dompet etnik.
Contoh Produk Kerajinan yang dapt dibuat dengan bungkus kopi:
Tas belanja, dompet, tempat pensil, tempat tisu, bros, gantungan kulkas, teas tempat bekal, hingga tikar.
Bahkan bisa dibuat bunga plastik dari bungkus kopi yang disetrika.
Sesi Praktik Bersama Sang Ahli Dalam kegiatan ini, sekolah mengundang Lisa Marlina, seorang praktisi daur ulang profesional, untuk menjadi guru tamu.
Beliau tidak hanya berbagi teknik, tetapi juga menularkan semangat kewirausahaan berbasis lingkungan (ecopreneurship) kepada murid-murid di SD Negeri 65 Payakumbuh.
Dimana masing-masing kelas membuat prakarya yang berbeda. Kelas 4 membuat taplak meja, kelas 5 membuat kotak pensil dan kelas 6 membuat tas sandang kecil. Tetapi ada yang mereka buat secara bersamaan yaitu gantungan tas.
Tahapan yang diajarkan meliputi:
Sanitasi Sampah: Cara membersihkan dan mengeringkan bungkus kopi agar tidak berbau dan higienis.
Kumpulkan & Bersihkan: Kumpulkan bungkus kopi bekas, cuci bersih dengan kain basah, lalu keringkan.
Potong: Gunting sisi atas-bawah bungkus kopi agar rapi, lalu potong menjadi bentuk pita selebar sekitar 2 cm.
Lipat: Lipat pita plastik menjadi dua bagian sehingga lebarnya menjadi 1 cm (lipat dua sisi ke tengah).
Teknik Pelipatan: Menggunakan teknik anyaman simetris untuk menciptakan struktur yang kokoh.
Anyam/Jahit: Anyam: Anyam pita-pita plastik tersebut membentuk pola keranjang atau pola anyaman lain yang diinginkan.
Perakitan: Menggabungkan lipatan-lipatan menjadi barang jadi tanpa menggunakan banyak lem tambahan
Jahit: Sambungkan lipatan-lipatan plastik dengan benang dan jarum atau lem bakar hingga membentuk pola tas, dompet, atau kerajinan lain.
Bentuk: Gabungkan anyaman atau jahitan untuk membentuk produk akhir, misalnya tas jinjing, tikar, atau tempat pensil.
Finishing: Rapikan pinggiran, jahit atau bakar ujungnya agar tidak terlepas, dan tambahkan hiasan jika perlu.
Dampak Positif bagi Siswa
Kehadiran guru tamu ini memberikan dampak yang jauh lebih besar daripada sekadar membuat kerajinan tangan:
Kesadaran Lingkungan: Siswa menyadari bahwa “sampah” hanyalah bahan baku yang berada di tempat yang salah.
Keterampilan Motorik & Kesabaran: Proses menganyam melatih ketelitian dan kesabaran siswa.
Potensi Ekonomi: Siswa melihat peluang bahwa kreativitas bisa menghasilkan pendapatan tambahan.
Kegiatan guru tamu dalam pengolahan sampah bungkus kopi ini membuktikan bahwa pendidikan lingkungan hidup akan jauh lebih efektif jika dilakukan dengan pendekatan praktis dan menyenangkan.
Sekolah bukan lagi sekadar tempat belajar teori, tapi menjadi laboratorium solusi bagi masalah lingkungan di sekitarnya.
“Sampah plastik bukan warisan untuk anak cucu kita, tapi kreativitas dalam mengolahnya adalah warisan ilmu yang tak ternilai”. (Nila Permata Sari, S. Pd, KEPALA SDN 65 PAYAKUMBUH)
Editor : Novitri Selvia