Kolaborasi ini inisiasi Kabid Pengelolaan Sampah, Limbah dan Pertamanan DLHPP, Yuniwal dengan Tim PIPK Politani Payakumbuh.
“Kami menantang Nagari Taram untuk menjadi pelopor Sedekah Sampah tingkat nagari di Limapuluh Kota, karena selama ini program serupa baru diterapkan tingkat sekolah belum mencakup kewilayahan,” ungkap Yuniwal di kantor Kanagarian Taram yang dihadiri Ketua Tim Pelaksana PIPK Dr Iis Ismawati SHut MSi, Kepala Seksi Pengelolaan Limbah dan Sampah Viki Siswantro SKM mewakili Kadis DLHPP Yunire Yunirman, kepala sekolah tingkat SD, SMP, MTsS dan Pondok Pesantren se-Kanagarian Taram, Kepala Unit Pengelolaan Sampah Nagari Taram, Bamus Nagari Taram, serta perangkat nagari.
Andrik Marta SP MSi selaku tim pelaksana PIPK bidang pengelolaan sampah langsung gerak cepat menyambut tantangan ini, dengan berkoordinasi bersama perangkat nagari Taram sehingga kegiatan ini bisa digelar. “Dengan semakin berkembangnya sektor pariwisata di daerah kami, ternyata bukan hanya membawa berkah namun juga menimbulkan masalah bagi nagari, salah satunya sampah,” imbuh Nanang Anwar selaku wali nagari Taram.
Ketua Tim Pelaksana PIPK Dr Iis Ismawati SHut menyebut, program Sedekah Sampah sangat tepat diterapkan di sekolah, selain menunjang program merdeka belajar juga melatih kepedulian siswa terhadap lingkungan. Dalam jangka panjang perilaku tersebut tumbuh membudaya dan seterusnya menjadi karakter yang melekat pada siswa. Inilah pendidikan karakter yang ingin dicapai dari profil Pelajar Pancasila sesungguhnya” jelas Iis Ismawati.
Kepala Seksi Pengelolaan Limbah dan Sampah Viki Siswantro SKM dalam pemaparannya menyampaikan bahwa ide program Sedekah Sampah ini sangat simpel, yaitu bagaimana mengubah mindset siswa bahwa bersedekah itu tidak hanya dengan uang.
Dengan bersedekah sampah anorganik setiap Jumat, kita tidak hanya mendapatkan pahala namun juga telah berpartisipasi dalam pembangunan nagari. Sampah yang dikumpulkan juga bisa dijual dan uangnya disedekahkan pada fakir miskin.
“Jika sampah anorganik diatasi dengan program sedekah sampah, maka bagaimana dengan sampah organik yang juga banyak dihasilkan rumahtangga, pasar dan tempat wisata?" tanya M Yusuf peserta dari SMP 2 Harau dalam sesi diskusi.
Andrik menjelaskan bahwa hasil kesepakatan tim PIPK dengan Nagari Taram, TPA sampah Taram yang sempat tidak difungsikan akibat Covid-19 kembali diaktifkan. Dalam program ini dilakukan pengolahan sampah organik menjadi kompos komersil.
Produk kompos ini menjadi sumber pendapatan bagi Tim Pengelola Sampah Nagari. Untuk mendukung ini, digelar pelatihan pengolahan sampah organik di TPA Taram, Minggu (16/10) lalu diikuti 18 orang tersebut. (cr8) Editor : Novitri Selvia