Indonesia terletak pada garis Ring of Fire menyebabkan banyak terjadi bencana gempa bumi. Hal ini disebabkan karena Indonesia terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia,dan Samudera Pasifik. Selain itu terdapat sabuk vulkanik (volcanic arc) pada bagian selatan dan timur Indonesia yang memanjang dari Pulau Sumatera – Jawa – Nusa Tenggara – Sulawesi. Indonesia dalam dekade terakhir ini termasuk dalam lima besar negara dengan frekuensi bencana gempa bumi tertinggi di seluruh dunia. Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi di pulau Sumatera yang rawan terjadinya gempa bumi karena berbatasan langsung dengan lautan Hindia. Kota Padang yang merupakan ibu kota provinsi juga menjadi daerah yang rawan akan bencana gempa bumi. Khususnya di Kota Padang saat sekarang memang menjadi suatu program yang harus dilakukan kegiatan penyuluhan kesiapsiagaan bencana oleh pemerintah.
Peristiwa gempa bumi mengguncang Kota Padang akhir tahun 2023 ini memiliki kedalaman 2 kilometer berkekuatan magnitudo 3,4 lalu memiliki karakteristik sama dengan gempa Kabupaten Pasaman tahun 2022. Pakar gempa Universitas Andalas Unand Dr. Ir. Badrul Mustafa Kemal M.S., D.E.A kepada RRI Selasa (28/11/2023) menjelaskan kejadian gempa seperti gempa beberapa hari lalu sangat jarang terjadi, karena memiliki kedalaman hanya 2 Km. Menurut Badrul Gempa tersebut terjadi akibat adanya pergeseran mendatar. Selain adanya pergeseran mendatar, gempa dangkal Kota Padang kemungkinan disebabkan adanya sesar baru yang terbentuk akibat percepatan tumbukkan lempeng Indo Australia terhadap lempeng Eurasia. Kemungkinan adanya patahan lama yang aktif kembali akibat gempa besar yang terjadi beberapa waktu lalu. Ia juga menegaskan gempa dangkal di Kota Padang tidak memiliki pengaruh terhadap patahan Megathrust Mentawai. Hal ini disebabkan posisi titik gempa yang tidak berada pada jalur Megathrust. Seperti yang kita ketahui jika patahan megathrust Mentawai tersebut terjadi maka akan mengakibatkan gempa bumi yang diiringi oleh tsunami yang akan menghancurkan daerah yang ada di sekitar jalurnya.
Sejak Gempa bumi besar disertai tsunami yang melanda di Provinsi Aceh tanggal 26 Desember 2004, masyarakat mulai memahami dan menyadari akan potensi gempa dan tsunami yang dapat terjadi di daerah-daerah lainnya, termasuk juga para peneliti kegempaan mulai memetakan daerah-daerah mana saja yang perlu diwaspadai kemungkinan gempa dan tsunami bakal terjadi. Sumber gempa megathrust biasanya terletak di bawah laut, sehingga sulit untuk melakukan pengamatan terperinci. Beberapa gempa megathrust yang pernah terjadi di Indonesia antara lain gempa di Selatan Jawa, Mentawai, dan zona-zona subduksi lainnya seperti Subduksi Sunda, Banda, Lempeng Laut Maluku, Sulawesi, Lempeng Laut Filipina, dan Utara Papua. Yang sangat menjadi perhatian saat ini baik oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah dan juga para ahli kegempaan akan adanya potensi gempa besar disertai tsunami adalah di Sumatera Barat khususnya di Mentawai megathrust.
Gempa megathrust merupakan salah satu ancaman alam yang sering menghantui wilayah Mentawai. Wilayah ini terletak di zona megathrust, yang dikenal sebagai tempat terjadinya gempa tektonik yang besar dan berpotensi memicu tsunami yang mengancam keselamatan penduduk setempat. Potensi gempa megathrust di wilayah Mentawai terkait erat dengan aktivitas subduksi lempeng di bawah samudra Hindia. Segmen megathrust di wilayah Mentawai-Siberut merupakan area di mana lempeng tektonik bertumbukan dan bersilangan, sehingga rentan terhadap pergerakan tektonik yang kuat dan berpotensi menimbulkan gempa bumi dengan magnitudo besar. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa megathrust di wilayah Mentawai memiliki karakteristik yang sangat potensial untuk menciptakan tsunami. Hal ini menunjukkan bahwa gempa-gempa megathrust di wilayah Mentawai memiliki potensi untuk menimbulkan gelombang tsunami yang dapat mencapai ketinggian yang mengancam keselamatan penduduk dan infrastruktur di sepanjang pantai. Sejarah kegempaan di wilayah Mentawai mencatat beberapa peristiwa gempa megathrust yang menyebabkan kerusakan besar dan korban jiwa.
Provinsi Sumatera Barat menjadi gerbang masuk wilayah barat Indonesia yang didukung oleh prasarana transportasi darat, laut dan udara yang memadai, seperti jalan nasional Trans Sumatera, Bandara Internasional Minangkabau, dan pelabuhan laut internasional Teluk Bayur. Selain itu secara geologis Provinsi Sumatera Barat merupakan daerah rawan gempa bumi, terutama di jalur gunung berapi. Hal ini terkait dengan kondisi fisik Pulau Sumatera sebagai Great Sumatra Fault di sepanjang pesisir barat Sumatera dan Mentawai Fault di kepulauan Mentawai yang saling mendesak sehingga terjadi gerakan di lempeng besar dan micro plate. Kondisi tersebut menjadikan Provinsi Sumatera Barat rentan terhadap bencana alam seperti tanah longsor, letusan gunung berapi, dan gempa bumi yang berpotensi terjadinya gelombang tinggi dan/atau tsunami. Sejarah catatan bencana di wilayah ini sudah menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan lembaga terkait untuk memperkuat infrastruktur yang dapat mengurangi dampak buruk dari bencana tersebut terutama di Kota Padang.
Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk membangun infrastruktur yang tahan gempa, seperti penguatan struktur bangunan, pembangunan jalur evakuasi, serta perbaikan dan pemeliharaan infrastruktur jalan raya dan jembatan. Selain itu, pemberdayaan masyarakat akan pengetahuan tentang praktik keselamatan saat terjadi gempa juga menjadi bagian dari upaya mitigasi bencana.
Pemerintah telah melakukan investasi dalam pengembangan sistem peringatan dini tsunami, sehingga masyarakat kota Padang dapat mendapatkan informasi yang akurat dan cepat saat terjadi ancaman tsunami. Selain itu, pembangunan jalur evakuasi yang mudah diakses dan infrastruktur bangunan publik yang tahan terhadap tekanan gelombang tsunami menjadi bagian penting dari upaya pencegahan bencana ini. Meskipun infrastruktur terkait bencana gempa dan tsunami telah mengalami perkembangan, masih terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Tantangan tersebut antara lain adalah alokasi dana yang masih kurang memadai untuk memperkuat infrastruktur di wilayah yang rawan bencana, pemenuhan standar keselamatan bangunan, kurangnya kesadaran masyarakat dalam memahami bencana yang terjadi, serta partisipasi masyarakat dalam menjaga dan memelihara infrastruktur yang telah dibangun.
Bencana alam seperti gempa bumi dan tsunami dapat memiliki dampak yang parah terhadap masyarakat di wilayah kota Padang seperti kerusakan fisik, banyaknya korban jiwa dan cidera, ketidakstabilan psikologis pada masyarakat, gangguan sosial dan ekonomi serta kerusakan lingkungan. Selain upaya penguatan infrastruktur dan sistem peringatan dini, perilaku masyarakat juga memainkan peran penting dalam mengurangi risiko dan dampak bencana tersebut. Dalam konteks ini, perilaku terhadap bencana mencakup berbagai aspek, mulai dari persiapan sebelum bencana terjadi, respons saat bencana terjadi, hingga proses pemulihan pascabencana.
Adapun saran yang dapat saya berikan yaitu pemerintah dan masyarakat selalu bekerja sama dalam persiapan menghadapi bencana gempa dan tsunami yang akan terjadi. Hal ini mencakup upaya pendidikan dan pelatihan terkait tindakan evakuasi, pertolongan pertama, persiapan perlengkapan darurat serta kesadaran masyarakat untuk selalu menjaga infrastruktur yang telah di bangun. Pemerintah juga perlu memperhatikan kelayakan bangunan untuk masyarakatnya yang sesuai dengan standar keselamatan bangunan untuk tahan bencana karena hal tersebut dapat menjaga keselamatan masyarakat. Selain itu pentingnya simulasi evakuasi dan latihan tanggap darurat tidak bisa dipandang remeh. Masyarakat perlu mendapatkan sosialisasi yang lebih untuk menanggapi bencana dengan cepat dan efektif. Peningkatan kesadaran akan potensi bencana dan pengetahuan kepada masyarakat dengan situasi darurat dapat sangat berkontribusi dalam mengurangi risiko dan kerugian akibat bencana tersebut Program-program partisipatif yang melibatkan masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan respons terhadap bencana juga memainkan peran kunci dalam membangun kesadaran dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana yang akan terjadi.(***) Editor : Hendra Efison