Di dapur sederhana, kepulan asap dari tungku kayu menandai proses pembuatan Singgang, kuliner tradisional yang menjadi sarapan khas warga setempat.
Singgang dikenal sebagai panganan berbahan dasar tepung beras yang dicampur kelapa parut dan gula merah cair.
Kombinasi bahan sederhana tersebut menghasilkan cita rasa manis dan gurih dengan tekstur lembut namun padat.
Proses memasak Singgang masih mempertahankan cara tradisional menggunakan tungku berbahan bakar kayu.
Panas dari kayu bakar memberikan kematangan merata sekaligus aroma asap yang menjadi ciri khas Singgang Muara Labuh.
Produksi Singgang dimulai sekitar pukul 04.00 WIB. Dalam waktu singkat, kue tradisional ini biasanya langsung habis terjual karena tingginya permintaan masyarakat.
Salah seorang warga Muara Labuh, Ides (63), mengatakan Singgang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak puluhan tahun lalu.
Kuliner ini diwariskan secara turun-temurun dan tidak terpengaruh tren makanan modern.
“Kuliner ini sudah turun-temurun. Sejak saya masih kecil, Singgang ini sudah ada dan memang sudah menjadi favorit warga sejak dulu,” ujar Ides.
Menurutnya, penggunaan tungku kayu tetap dipertahankan untuk menjaga cita rasa asli.
sCara memasak tersebut dianggap sebagai kunci kelezatan Singgang yang tidak tergantikan oleh peralatan modern.
Hingga kini, Singgang tidak hanya berfungsi sebagai menu sarapan, tetapi juga menjadi simbol tradisi dan identitas kuliner masyarakat Muara Labuh.
Keberadaannya mencerminkan upaya warga menjaga warisan leluhur di tengah perubahan zaman.(CR2)
Editor : Hendra Efison