Salah satu pemandangan tersebut terlihat di kawasan Jalan Cut Mutia, tepatnya di samping kantor Kantor Wilayah ATR/BPN Sumatera Barat, di mana seorang pengrajin bernama Yusril terlihat sibuk menganyam daun kelapa muda atau janur menjadi wadah ketupat.
Pria berusia 52 tahun itu mengaku sengaja beralih sementara dari profesi utamanya sebagai tukang urut untuk memanfaatkan meningkatnya permintaan kulit ketupat menjelang lebaran.
Yusril tidak bekerja sendirian, karena ia dibantu rekannya, Edi, yang juga merupakan warga Ganting.
Keduanya terlihat duduk beralaskan plastik di pinggir jalan sambil dikelilingi tumpukan janur berwarna hijau kekuningan yang menjadi bahan utama pembuatan kulit ketupat.
Pada Selasa (10/3/2026) siang, mereka tampak fokus menyelesaikan pesanan yang terus berdatangan dari pelanggan tetap maupun masyarakat yang melintas di lokasi tersebut.
Rutinitas Yusril dimulai sejak pagi hari ketika ia berangkat ke Pasar Raya Padang untuk membeli bahan baku daun kelapa muda dengan harga Rp30 ribu per ikat.
Setelah memperoleh bahan baku, ia menuju lokasi berjualan di Jalan Cut Mutia untuk mulai menganyam janur menjadi kulit ketupat yang kemudian dijual kepada pelanggan.
Meski baru menekuni kerajinan ini selama sekitar satu tahun terakhir, Yusril sudah terbiasa memproduksi kulit ketupat untuk memasok pedagang makanan seperti penjual lontong sayur dan sate di kawasan Bandar Purus.
Namun menjelang Hari Raya Idulfitri, permintaan kulit ketupat meningkat secara signifikan karena tidak hanya pedagang yang membeli, tetapi juga masyarakat yang mempersiapkan hidangan khas lebaran.
“Alhamdulillah, jelang lebaran ini pesanan naik dua kali lipat dari biasanya. Permintaan sekarang tidak cuma dari pedagang sate atau lontong langganan saya, tapi orang rumahan juga sudah banyak yang pesan untuk persiapan masak di hari raya nanti,” ujar Yusril.
Dalam satu hari, Yusril dan Edi mampu memproduksi sekitar 300 hingga 500 buah kulit ketupat dengan proses anyaman yang dikerjakan secara manual.
Baca Juga: ITP Hadirkan Teknologi Air Bersih dan Aquaponik Untuk Warga Gurun Laweh Pascabanjir
Jumlah tersebut mereka hasilkan dengan ketelitian agar anyaman ketupat tetap rapi dan kuat sehingga tidak mudah bocor ketika diisi beras dan dimasak.
Untuk harga jual, Yusril membaginya menjadi dua kategori berdasarkan ukuran.
Kulit ketupat ukuran besar dijual dengan harga Rp25 ribu per 100 buah, sementara ukuran kecil dibanderol Rp13 ribu per 100 buah.
Selain menjual kulit ketupat, Yusril juga memanfaatkan sisa bahan dari daun kelapa dengan mengumpulkan lidi yang dipisahkan dari janur untuk dijadikan sapu lidi.
Menurut Edi, pekerjaan menganyam ketupat memerlukan kesabaran dan konsentrasi agar bentuknya simetris meskipun terlihat sederhana.
Keberadaan para pengrajin ketupat di pinggir jalan ini juga memudahkan masyarakat yang tidak memiliki waktu atau keterampilan untuk membuat kulit ketupat sendiri menjelang hari raya.
Fenomena meningkatnya aktivitas para pengrajin ketupat musiman tersebut menjadi gambaran aktivitas ekonomi masyarakat Kota Padang dalam menyambut Hari Raya Idulfitri. (*)
Editor : Hendra Efison